Pages

Sunday, April 17, 2011

Cerita Singkat Part IV

CeriSudah beberapa hari ini aku menghindari Yuda. Sejak perkara yang terjadi di restoran beberapa hari yang lalu, aku mulai menghindar dari Yuda.
Dan kupikir Yuda pun demikian. Tapi meskipun kami saling menghindar, pertemuan tak bisa kami tolak, karena kami pasti akan selalu bertemu.
Tatapan kami sering bertabrakan. Kami sering salah tingkah karena hal hal yang kami sendiri menghindarinya.
Semenjak perkara itu juga, Dimas semakin dekat denganku. Walaupun seharusnya aku membencinya. Namun itu semua bukan salah Dimas seorang.
Akhir-akhir ini aku sudah tak memperhatikan Yuda lagi. Aku bahkan tidak tau bagaimana perasaan nya kini. Apa mungkin dia masih merasa sakit karena Dwi atau dia sudah melupakannya. Aku sudah tak tau.
Siang ini, Dimas berencana mengajakku makan siang di restoran tetapi tiba-tiba hp ku berbunyi. Ternyata ada sms. Dan betapa terkejutnya aku ketika membaca sms dari Yuda. Ya, Yuda ingin bertemu denganku. Dengan cepat aku mengiyakan permintaan Yuda untuk bertemu.Setengah berlari aku menuju kantin yang ternyata disana Yuda sudah menungguku.
" Hai " sapanya agak kaku.
" Ya, apa yang ingin kau bicarakan? " Tanyaku kemudian duduk tepat didepan Yuda.
" Aku hanya ingin memperbaiki masalah diantara kita. Hmm, tepatnya bukan masalah, mungkin salah paham " jelas Yuda dengan sedikit terbata bata. Aku tersenyum kecil.
" Aku tak merasa kita memiliki masalah atau kita sedang terlibat dalam kesalah pahaman " ujarku pelan dengan nada yang lebih ringan.
Yuda mengernyitkan dahinya.
" Kuharap kau melupakan apa yang aku dan dimas bicarakan kemarin di restoran. Aku harap kau menganggap hal itu hanya lelucosz0n " tambahku.
" Hah? Tentu saja. " Jawab Yuda.
" Kita akan selalu menjadi sahabat bukan? " Tanyaku dengan mengulas senyumku. Senyum yang paling indah. Senyum yang muncul dari ketulusan hatiku.
" Tentu saja " jawab Yuda dengan bersemangat.
" Aku rindu padamu " tambah Yuda
" Aku juga merindukanmu "
" Ah kau jahat, kau sering membuang muka ketika aku menatap mu " canda Yuda.
" Oh ya? Ah kau berbohong. Aku tak mungkin seperti itu "
" Kemana Dimas ? Tumben kau tak bersamanya ".
" Hah? Dimas? Aku tak tau " bohongku. Ah, aku lupa dimas. Aku lupa bahwa aku memiliki janji padanya. Dimana kah dia sekarang? Apa dia masih menungguku? Batinku.
" ada hubungan apa kau dengan dimas ? " Tanya Yuda dengan sedikit nada menyelidik.
" Aku ? Hanya sebatas teman. Sama hal nya aku denganmu. Kenapa kau bertanya seperti itu? "
" Tidak. Hmm, tidak. Aku hanya ingin tahu " jawab Yuda salah tingkah.
" Hmm, apa ada lagi yang ingin kau bicarakan? "
" Tidak, hanya itu yang ingin aku bicarakan "
" Kalo begitu aku balik dulu. Ada urusan yang ingin kuselesaikan " ujarku kemudian berdiri dari tempat dudukku.
" Jangan dulu. Aku masih ingin mengobrol dengan mu mey " cegah Yuda. Akupun duduk kembali dengan terpaksa.
" apa yang kau mau bicarakan lagi? "
" Tidak ada. Hanya aku tak mau kau pergi sekarang. Aku masih ingin bersamamu " ujar Yuda lirih. Aku terkejut.
" Apa ? Apa yang kau katakan? " Tanyaku dengan nada tak percaya. Yuda menjadi salah tingkah.
" Aku, aku hanya.. Aku rindu dengan nasihatmu! " Jawab Yuda dengan terbata-bata. Aku tersenyum namun tampak jelas pada wajahku bahwa aku benar-benar kecewa atas jawaban Yuda.
" Kau bercanda "
" aku butuh nasihatmu mey, aku rapuh akhir2 ini. Tak ada yang menasihatiku. Tak ada yang memberitahu ku sikap apa yang harus aku lakukan. aku membutuhkanmu mey " jelas Yuda. Aku ternganga. Ada apa dengan Yuda? Dia tak pernah merendah mengatakn dirinya sangat rapuh! Batinku.
" Apa kau sudah gila? " Tanyaku tetap dengan tatapan aneh.
" Hah? Tentu saja tidak " jawab Yuda cepat.
" Kau aneh "
" Aneh? Tidak, aku tidak aneh "
" Mey, Dwi telah putus " tambah Yuda lagi.
Ya, ini berita yang lebih mengagetkan lagi. Respon yang ku berikan bukan hanya menganga saja mendengarkan berita itu. Aku tersendak. Minumanku jatuh pada rok sekolahku.
" Hey, kau tak apa? " Tanya Yuda kemudian membantuku membersihkan sedikit kekacauan dimeja tempat kami.
" Ya, aku hanya kaget " jawabku setelah semua nya beres.
" apa yang kau kagetkan? Hal ini biasa saja bukan? " Tanya Yuda dengan heran.'Ah akupun juga bingung yud' batinku. Entah mengapa aku harus Tkaget padahal ini hal yang biasa saja malah aku harusnya bersyukur karena bisa saja ini sebuah kesempatan untuk mewujudkan apa yang aku usahakan selama ini, yaitu menyatukan Yuda dan Dwi kembali. Ah apakah sekarang aku malah takut? Apakah aku takut Yuda dan Dwi kembali bersatu? Batinku.
" Tidak. Aku hanya sedikit tak percaya. Bukankah mereka baru jadian? " Bohongku.
" Ya, aku malah berfikir sekarang, bahwa dwi memang seorang player. "
" Kau tak boleh seperti itu. Kalo dia seorang player, hbungan kalian dulu pasti hanya sebentar. Tapi kan kau sudah berpacaran dengannya slama kurang lebih setahun. Itu cukup lama loh. Cukup lama yud! "
" Ya " jawab Yuda singkat sambil tersenyum.
" Ini kesempatanmu buat kembali mendekati dwi "
" Yaa "
Aku tersenyum.
" Apa kau lapar? " Tanya Yuda.
" Yaa, aku ingin segera pulang Yud "
" Kau mau kuantar ? " Tawar Yuda.
" Tidak perlu "
" Tak bisakah kau menemani dulu ? " Tanya Yuda.
" Ada apa denganmu ? "
" Aku .. Aku .. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku hari ini bersamamu, bolehkah ? "
Aku tertawa. Tapi Yuda tetap memasang wajah serius tanpa sedikitpun memasang mimik tawa. Aku pun berhenti tertawa, kupikir ini sekarang malah tak lucu.
" Kau aneh " ucapku.
" Aku serius, aku benar benar ingin bersamamu " Tambah Yuda.
Aku terdiam. Aku heran. Aku tak bisa berbicara sedikit pun. 'Ada apa dengan yuda?' Batinku.
" Kau ingin menemaniku? Kumohon, hari ini saja " ujar Yuda lagi.
" Baiklah " jawabku singkat. Yuda pun menarik tanganku.
" Kau mau membawaku kemana ? " Tanyaku cepat.
" Kau akan tau nanti " jawab Yuda senang.
" Aku ingin ketoilet dulu " ujarku. Dengan setengah berlari aku menuju toilet sekolah, segera ku hubungi Dimas untuk memberitahu bahwa aku tak bisa makan siang bersamanya.
" Halo, kau dimana Mey? Daritadi aku menunggumu disini. " Ujar Dimas.
" Aku, aku ada urusan. Aku tak bisa makan siang bersamamu "
" Apa kau lama? " Tanya nya lagi.
" Tidak, mungkin hanya sejam saja. "
" Setelah urusan mu selesai, kau akan kerumah mu Kan?"
"Iya, kenapa ?"
" Baiklah, aku akan menunggumu ditaman dekat rumahmu, awas jika kau tak muncul sejam lagi "
" Hey, aku tak.... " Ujarku cepat tetapi ternyata Dimas sudah memutuskan telefonnya. Akupun mengirim sms ke Dimas.
" Aku tak janji bisa menemui mu satu jam kemudian di taman. Aku punya urusan penting saat ini. Jika sejam kemudian aku tak muncu dan tak memberimu kabar, kusarankan kau lebih baik pulang " bunyi sms ku.
Setelah itu, akupun segera menyusul Yuda yang sedang menungguku didepan kantin. Dia menggandeng tangan ku dan membawaku ketempat parkiran. Tempat dimana mobilnya terparkir. Aku pun memasuki mobilnya. 20 menit kemudian sampailah kami didepan sebuah panti asuhan yang terletak di sedikit pinggiran kota. Aku pun heran, 'buat apa Yuda membawaku kesini?' Batinku. Aku ingin sekali bertanya, tetapi bibirku serasa dikunci. Sejak tadi aku malas berbicara.
Yuda pun turun dari mobilnya, dia disambut anak anak panti yang kebanyakan kira-kira masih berumur 5-10 tahun. Lalu Yuda pun mengambil kan dua dos barang dari mobilnya, entah barang apakah itu. Setelah dia mengambilnya, diapun membuka dos itu dan membagikan anak-anak panti tersebut permainan. Aku terkejut. Aku semakin kagum padanya. Aku semakin mengidolakannya.
" Mey, ayo sini. Jangan bengong saja disitu " ajak Yuda memecahkan lamunanku. Akupun mengikuti Yuda bermain dengan anak-anak di Panti tersebut. Aku yang mulai lelah menemani anak anak lainnya bermain pun duduk di teras Panti itu, tiba-tiba seorang anak kecil mendekatiku.
" kakak pacar kak yuda ? " Tanyanya.
" Bukan, aku sahabatnya " jawabku cepat.
" Oh ya ? "
" Tentu saja " jawabku tengah tertawa kecil.
" Kau gadis yang lucu. berapa umur mu dek? " Tanyaku sambil mencubit pipi anak itu.
" 6 tahun " jawabnya kemudian meninggalkanku dengan setengah berlari menuju ke Yuda. Aku tersenyum. Kuliat jam pada jam tanganku. Sudah jam 4 sore. 'Semoga Dimas tak menungguku' batinku.
" Seseorang sedang menunggumu ? " Tanya Yuda memecahkan lamunanku.
" Hah ? Tidak. Kenapa kau bertanya seperti itu? "
" Sejak tadi kau melirik jam tangamu " jawab Yuda santai kemudian mengambil posisi duduk disampingku.
" kau liat anak anak itu " ujar Yuda sambil menunjuk anak-anak panti yang sedang bermain didepan kami.
" Mereka tidak pernah merasakan kasih sayang dari orangtua asli mereka, dan mereka tau itu. Tetapi mereka tetap tersenyum. Mereka tak pernah merasa putus asa " tambahnya.
" Mereka tetap ceria walau sesungguhnya mereka sering menangis dibalik keceriaan itu " lanjutnya.
aku menganguk pelan.
" Setidaknya mereka beruntung " ujarku menanggapi Yuda.
" Ya, kau benar. Mereka beruntung. "
" Mereka beruntung karena mereka bisa berkumpul seperti ini " tambahku.
" Aku juga beruntung mempunyai sahabat seperti mu " ujar Yuda kemudian memandangku. Aku tersenyum.
" Beberapa hari kau menghindariku aku.. "
" Hey, aku tak pernah menghindarimu " potongku.
Yuda tertawa kecil.
" Ya ya, kau tak menghindariku tetapi hanya menjaga jarak denganku bukan ? "
" Tidak juga " jawabku cepat.
" Oke, beberapa hari jauh darimu, aku.. Aku merasa.. Merasa kalo aku, aku merindukanmu " ujar Yuda dengan gagap.
" Aku juga merindukanmu sobat " jawabku cepat dengan santai.
" Tapi aku sadar, aku bukan merindukanmu sebagai sahabat, tetapi aku merindukanmu, karena.. Karena aku pikir aku telah mencintaimu " Ujar Yuda. Aku ternganga. Aku tak bisa berkata apapun. spechless abis.
" Aku mencintaimu " ulang Yuda.
Aku menghela nafasku dalam-dalam. Aku membalikkan tubuhku dari arahnya. Aku benar-benar merasa ini semua mimpi.
" Apa kau masih merasakan hal yang sama ? " Tanya Yuda Lagi. Aku diam. Aku masih belum percaya. Kucubit tanganku dengan kasar, berharap ini bukanlah mimpi. Dan ketika ku mencubitnya, aku merasa sakit sendiri. Yuda hanya tertawa geli meliat tingkahku.
" Tentu, aku mencintaimu " jawabku cepat ketika aku menyadari ini semua bukan mimpi.
Yuda memelukku dengan Erat.

No comments:

Post a Comment