Pages

Wednesday, April 20, 2011

Cerita Singkat Part V

Hari ini aku dan Yuda resmi menjadi seorang kekasih. Hari ini adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu. Hari yang sangat sakral buat aku. Pukul 5.30 Yuda mengantarku pulang kerumah. Karena sudah sangat bahagia aku tak memperhatikan lagi Cuaca sore ini. Aku melemparkan pandanganku diluar jendela. Ternyata sore ini hujan sangat deras. Aku tersenyum. Aku sangat menyukai hujan. Yuda yang meliatku tersenyum langsung memegang erat tanganku. Diapun sangat tau kalo aku memang sangat menyukai Hujan.
Pukul 5.50 sampailah aku didepan rumah, sebelum aku turun, Yuda mengecup keningku.
" Aku mencintaimu " ujarnya. Aku hanya tersenyum. Senang sekali aku hari ini.
Akupun memasuki rumahku dengan setengah berlari karena memang hujan sore ini sangat deras. Aku melambaikan tanganku kearah Yuda. Kuliat Yuda tersenyum.
Aku pun memasuki kamarku dengan senyum yang terus melekat dibibirku. Aku melemparkan tubuhku kekasur, kuraih handphone sejak tadi tak ku sentuh sedikitpun. Betapa terkejutnya ketika aku meliat 14 sms dari Dimas dan 5 panggilan tak terjawab.
" Aku masih menunggumu, kau dimana? Aku tak akan kembali sampai kau mau menemuiku " bunyi sms terakhir dari Dimas. Kuraih jaket merah mudaku kemudian dengan setengah berlari menyusul Dimas yang ada ditaman. Tak peduli lagi hujan yang begitu deras. Aku sudah tak peduli dengan diriku.. Dari jauh, kulihat sosok Dimas. Aku memperlambat jalanku. Aku terkejut meliat sosok Dimas tetap duduk di kursi taman dan dia tampak basah. Aku memanggilnya. Dia menatapku kemudian tersenyum.
" Kenapa kau masih menungguku disini ? Liat dirimu, kau basah kuyup " marahku. Dia hanya tersenyum dan meraih tanganku.
" Aku ingin memberikanmu ini " ujarnya sambil memberikanku sebuah Kalung dengan liontin yang manis.
" Tidak, aku tak pantas mendapatkannya "
Dimas menggeleng.
" Kau pantas. Kau satu-satunya gadis yang kucintai. Kau gadis yang membuat ku merasa sangat berarti " Ujarnya.
" Maaf, aku tak ingin menerimanya "
" Aku mohon " pintanya. Kuliat tubuh Dimas, dia menggigil. Aku tak tega meliatnya. Dia tampak sangat menggigil.
" Singgahlah dirumahku " perintahku sambil menuntunnya berjalan. Aku tak menyangka dia sudah menungguku selama 2 jam ditemani hujan yang begitu deras. Kuliat wajah dimas sedikit pucat. Tentu saja, mana mungkin bisa tak pucat jika 1 jam lebih terkena Air Hujan yang begitu deras. Aku terus menuntunnya untuk kerumah. Untung saja Taman dan rumahku tak terlalu jauh.
Sesampaiku dirumah, aku segera mengambil kaus bajuku yang longgar. Ku suruh bibi untuk menyiapkan airpanas untuk Dimas gunakan mandi. Setelah itu aku menyuruh dimas untuk mandi dan mengganti bajunya yang sudah sangat basah. Sementara itu aku sibuk menyiapkan susu panas untuknya. Beberapa menit kemudian keluarlah dimas dari kamar mandi dengan wajah yang sedikit pucat. Aku menyuruhnya untuk meminum susu yang telah kusiapkan untuknya.
" Kau suka kalungnya? " Tanya dimas setelah menegukkan susunya. Ya, aku ingat kalung yang diberikannya. Segera ku rogehkan kantong pada bajuku dan mengambil sebuah kalung yang barusan tadi diberikan Dimas. Aku memandang kalung itu sebentar ' sangat cantik ' batinku. Akupun meletakkan kalung itu dimeja depan Dimas.
" Kenapa? Apa kau tak menyukainya? " Tanya Dimas dengan nada kecewa.
" Aku menyukainya, kalung ini sangat cantik. Tapi maaf aku tak bisa menerimanya. " Jawabku.
" Kenapa? "
" Aku tak pantas mendapatkannya. Berikanlah pada wanita yang pantas mendapatkannya "
" Kau pantas. Kalung ini hanya indah jika kau yang menggunakannya " ujar Dimas meyakinkanku.
" Tidak. Berikanlah pada wanita yang mencintaimu " ujarku lagi. Dimas mengernyitkan keningnya. Dia memaksakan senyumnya kemudian mengambil kalung itu dan menyimpannya dikantong celana yang kupinjamkan.
" Apa kau tak akan pernah bisa mencintaiku? " Tanya Dimas lirih.
" Maaf. Aku hanya mencintai Yuda. " Jawabku. Dimas tersenyum kemudian berdiri dari meja makan. Dia meraih kunci mobinya yang terletak di meja sampingnya. Kemudian dia menuju pintu keluar dari rumahku.
" Anyway thanks baju pinjamannya. Besok pasti kukembalikan. " Ujar Dimas sebelum keluar dari rumahku. Aku hanya menganguk kecil. Kutatap sosok Dimas yang semakin lama semakin jauh hingga hilang. Tiba-tiba aku merasa sakit disatu bagian dalam hatiku. Entah kenapa aku merasakan hal ini. Aku merasa kecewa pada diriku sendiri. Kecewa? Aku tak tau pasti mengapa aku merasa kecewa. Aku tak kuat meliat wajah Dimas yang terlihat pucat tadi. Aku merasa sakit meliat wajah Dimas tampak kecewa. Bunyi sms memecahkan lamunan ku. Segera ku buka kunci pada handphoneku. Ternyata sms itu berasal dari Yuda.
" Aku mencintaimu. Aku menyesal baru menyadari ini semua. Ku harap kau adalah yang terbaik dalam hidup ku. Sekali lagi, AKU MENCINTAIMU " bunyi sms itu.
Aku memandang jauh diluar rumahku. Entah mengapa aku tak merasa bahagia membaca sms itu. Entah mengapa aku tak merasa sedang di sms orang yang aku cintai.
Aku merasa hal ini hanya hal biasa saja. Kenapa aku bisa sakit meliat Wajah Dimas yang tampak pucat tetapi aku tak bahagia membaca sms Yuda yang sedang mengatakan perasaannya padaku? Ada apakah ini? Batinku. Aku menunduk. Kubaca sms itu berulang ulang sampai aku bosan membacanya. Aku melempar bayanganku kearah luar rumah. Aku terkejut. Aku meliat Dimas yang sedang berlari menuju ke rumah. 'Apa yang ketinggalan?' Batinku.
Aku pun keluar dari rumahku menuju teras rumahku. Dimas mengulurkan sebuah Kalung yang tadi kukembalikan padanya. Aku melongo heran.
" Bukan kah sudah kukatakan aku tak ingin menerimanya? " Ujarku. Dimas diam. Dia meraih tanganku, dan menyimpan kalung itu ditangan ku kemudian menutup tanganku.
" Ambillah. Aku berniat memberikan kalung ini pada orang yang kucintai saat ini. Aku tak mungkin memberikannya pada wanita lain " ujarnya.
" Kalung ini kuanggap kalung sial. Aku tak mungkin memberikannya kewanita yang kucintai nanti. " Tambahnya. Aku membisu. Aku tak tau harus berkata apa lagi. Tiba-tiba aku kembali merasakan sakit pada satu bagian dihatiku. Jantungku berpacu dengan keras sehingga aku bisa sangat merasakannya. Mengapa seperti ini?.
" Kalau kau tak menyukai kalung ini, kau bisa membuangnya atau memberikannya pada orang lain. Aku tak peduli. Dan aku tak akan menanyakannya padamu. Aku tak mungkin memberikan kalung yang ingin kuberikan padamu tuk diberikan ke gadis yang akan kucintai nanti " ujar Dimas lagi.
Aku tetap membisu. Aku mencoba menguasai rasa yang semakin hebat ini.
" Terimakasih. Aku balik " pamit Dimas. Aku tetap membisu. Aku terus menatap Dimas yang semakin jauh tanpa berkedip sedikitpun. Walaupun malam semakin gelap, aku tetap bisa meliat Dimas yang semakin jauh hingga lenyap dari ujung mataku
Aku mencoba menghela nafas yang paling dalam. Ah rasa apa yang sedang bergejolak dihatiku ini? Hingga aku tak bisa lagi menguasainya. Perasaan apa ini? Aku takut. Benar benar takut. Aku terus terpaku, terbawa suasana malam yang begitu mencekam. Duduk termangu didepan teras. Sesekali kalung itu kutatap. Sungguh cantik, ya cantik jika dia memberikan kalung itu pada orang yang dia sayangi dan menyayanginya. Setengah jam aku terpaku didepan teras, tak satupun suara yang mampu memecahkan lamunanku. Hingga aku menyadari perasaan apa yang sedang bergejolak ini.
" Apa kah aku telah mencintai Yuda? " Tanyaku pada diriku sendiri. Aku terkejut mendengar pertanyaanku sendiri. Kucoba menghilang kan pikiranku itu. Aku mencoba mengelak sendiri.
" Kenapa kau tak masuk? " Tanya Doni memecahkan lamunanku. Doni adalah kakakku.
" Aku ingin disini dulu " jawabku singkat tanpa bergerak sama sekali.
" Kau ada masalah ? Kau bisa menceritakannya padaku " tawarnya. Aku hanya terdiam. Aku tak tahu harus bercerita darimana.
" Hey, ceritalah padaku " tambahnya lagi memecahkan sunyi.
" Tadi.. Tadi.. Tadi Yuda menyatakan perasaannya padaku.... Dia Mencintaiku kak " ujarku gagap
" Wah, bukankah itu hal yang kau tunggu tunggu? " Tanya Kak Doni dengan wajah cerah ceria.
" Yaaa, tentu saja " jawabku tak bersemangat.
" Kau sudah tak mencintainya lagi? " Tanya Kak Doni yang mulai mengerti akan perasaanku sendiri yang aku sama sekali tak mengerti. Bukan, mengerti hanya saja tak ingin mengerti.
Aku membisu. Aku tak tau harus menjawab apa. Kudengar Kak Doni menghela nafas yang sangat dalam.
" Kau sudah tak mencintainya? " Tanya nya Lagi.
" Aku tak tahu. Hanya saja aku, aku, aku merasa " jawabku tersendat sendat tak melanjutkan jawabanku selanjutnya.
" Kau mencintai lelaki tadi yang kerumah? " Tanyanya. Membuatku spontan kaget. 'Darimana dia tau Dimas kerumah tadi? Setauku dia baru datang' Batinku.
" Tak perlu kaget. Jawab saja pertanyaanku " tambahnya.
" Tidak. Aku, aku tak mencintainya. Ah entahlah. Aku sendiri tak mengerti akan perasaanku sendiri menurutmu bagaimana kak? "
" Mana aku tau. Makanya aku bertanya. "
Aku menghela nafas.
" Pria tadi itu Dimas ? " Tanya kak Doni lagi.
Aku menganguk. Kak Doni tersenyum.
" Kau akan menyadari bahwa kau sedang jatuh cinta pada saat kau merasa kehilangan karena kau membutuhkannya " ujar Kak Doni kemudian meninggalkanku. Aku mencerna baik-baik kalimat yang diberikan Kak Doni. Tak kutemukan jalan keluar untuk memecahkan masalah perasaanku ini.
Aku menghela nafas panjang. Tetap dia terpaku didepan teras adalah pilihanku untuk malam ini. Menemani sunyi malam yang semakin mencekam. Tiba2 dari dalam Bunda berteriak menyuruhku masuk kedalam karena malam semakin larut. Ya, kuliat pada jam tanganku, jan sudah menunjukan pukul 10 malam. Akupun masuk kedalam rumah dan terlelap. Tidur mungkin adalah solusi yang baik untuk malam ini. Melupakan sejenak masalah hati.

Sunday, April 17, 2011

Cerita Singkat Part IV

CeriSudah beberapa hari ini aku menghindari Yuda. Sejak perkara yang terjadi di restoran beberapa hari yang lalu, aku mulai menghindar dari Yuda.
Dan kupikir Yuda pun demikian. Tapi meskipun kami saling menghindar, pertemuan tak bisa kami tolak, karena kami pasti akan selalu bertemu.
Tatapan kami sering bertabrakan. Kami sering salah tingkah karena hal hal yang kami sendiri menghindarinya.
Semenjak perkara itu juga, Dimas semakin dekat denganku. Walaupun seharusnya aku membencinya. Namun itu semua bukan salah Dimas seorang.
Akhir-akhir ini aku sudah tak memperhatikan Yuda lagi. Aku bahkan tidak tau bagaimana perasaan nya kini. Apa mungkin dia masih merasa sakit karena Dwi atau dia sudah melupakannya. Aku sudah tak tau.
Siang ini, Dimas berencana mengajakku makan siang di restoran tetapi tiba-tiba hp ku berbunyi. Ternyata ada sms. Dan betapa terkejutnya aku ketika membaca sms dari Yuda. Ya, Yuda ingin bertemu denganku. Dengan cepat aku mengiyakan permintaan Yuda untuk bertemu.Setengah berlari aku menuju kantin yang ternyata disana Yuda sudah menungguku.
" Hai " sapanya agak kaku.
" Ya, apa yang ingin kau bicarakan? " Tanyaku kemudian duduk tepat didepan Yuda.
" Aku hanya ingin memperbaiki masalah diantara kita. Hmm, tepatnya bukan masalah, mungkin salah paham " jelas Yuda dengan sedikit terbata bata. Aku tersenyum kecil.
" Aku tak merasa kita memiliki masalah atau kita sedang terlibat dalam kesalah pahaman " ujarku pelan dengan nada yang lebih ringan.
Yuda mengernyitkan dahinya.
" Kuharap kau melupakan apa yang aku dan dimas bicarakan kemarin di restoran. Aku harap kau menganggap hal itu hanya lelucosz0n " tambahku.
" Hah? Tentu saja. " Jawab Yuda.
" Kita akan selalu menjadi sahabat bukan? " Tanyaku dengan mengulas senyumku. Senyum yang paling indah. Senyum yang muncul dari ketulusan hatiku.
" Tentu saja " jawab Yuda dengan bersemangat.
" Aku rindu padamu " tambah Yuda
" Aku juga merindukanmu "
" Ah kau jahat, kau sering membuang muka ketika aku menatap mu " canda Yuda.
" Oh ya? Ah kau berbohong. Aku tak mungkin seperti itu "
" Kemana Dimas ? Tumben kau tak bersamanya ".
" Hah? Dimas? Aku tak tau " bohongku. Ah, aku lupa dimas. Aku lupa bahwa aku memiliki janji padanya. Dimana kah dia sekarang? Apa dia masih menungguku? Batinku.
" ada hubungan apa kau dengan dimas ? " Tanya Yuda dengan sedikit nada menyelidik.
" Aku ? Hanya sebatas teman. Sama hal nya aku denganmu. Kenapa kau bertanya seperti itu? "
" Tidak. Hmm, tidak. Aku hanya ingin tahu " jawab Yuda salah tingkah.
" Hmm, apa ada lagi yang ingin kau bicarakan? "
" Tidak, hanya itu yang ingin aku bicarakan "
" Kalo begitu aku balik dulu. Ada urusan yang ingin kuselesaikan " ujarku kemudian berdiri dari tempat dudukku.
" Jangan dulu. Aku masih ingin mengobrol dengan mu mey " cegah Yuda. Akupun duduk kembali dengan terpaksa.
" apa yang kau mau bicarakan lagi? "
" Tidak ada. Hanya aku tak mau kau pergi sekarang. Aku masih ingin bersamamu " ujar Yuda lirih. Aku terkejut.
" Apa ? Apa yang kau katakan? " Tanyaku dengan nada tak percaya. Yuda menjadi salah tingkah.
" Aku, aku hanya.. Aku rindu dengan nasihatmu! " Jawab Yuda dengan terbata-bata. Aku tersenyum namun tampak jelas pada wajahku bahwa aku benar-benar kecewa atas jawaban Yuda.
" Kau bercanda "
" aku butuh nasihatmu mey, aku rapuh akhir2 ini. Tak ada yang menasihatiku. Tak ada yang memberitahu ku sikap apa yang harus aku lakukan. aku membutuhkanmu mey " jelas Yuda. Aku ternganga. Ada apa dengan Yuda? Dia tak pernah merendah mengatakn dirinya sangat rapuh! Batinku.
" Apa kau sudah gila? " Tanyaku tetap dengan tatapan aneh.
" Hah? Tentu saja tidak " jawab Yuda cepat.
" Kau aneh "
" Aneh? Tidak, aku tidak aneh "
" Mey, Dwi telah putus " tambah Yuda lagi.
Ya, ini berita yang lebih mengagetkan lagi. Respon yang ku berikan bukan hanya menganga saja mendengarkan berita itu. Aku tersendak. Minumanku jatuh pada rok sekolahku.
" Hey, kau tak apa? " Tanya Yuda kemudian membantuku membersihkan sedikit kekacauan dimeja tempat kami.
" Ya, aku hanya kaget " jawabku setelah semua nya beres.
" apa yang kau kagetkan? Hal ini biasa saja bukan? " Tanya Yuda dengan heran.'Ah akupun juga bingung yud' batinku. Entah mengapa aku harus Tkaget padahal ini hal yang biasa saja malah aku harusnya bersyukur karena bisa saja ini sebuah kesempatan untuk mewujudkan apa yang aku usahakan selama ini, yaitu menyatukan Yuda dan Dwi kembali. Ah apakah sekarang aku malah takut? Apakah aku takut Yuda dan Dwi kembali bersatu? Batinku.
" Tidak. Aku hanya sedikit tak percaya. Bukankah mereka baru jadian? " Bohongku.
" Ya, aku malah berfikir sekarang, bahwa dwi memang seorang player. "
" Kau tak boleh seperti itu. Kalo dia seorang player, hbungan kalian dulu pasti hanya sebentar. Tapi kan kau sudah berpacaran dengannya slama kurang lebih setahun. Itu cukup lama loh. Cukup lama yud! "
" Ya " jawab Yuda singkat sambil tersenyum.
" Ini kesempatanmu buat kembali mendekati dwi "
" Yaa "
Aku tersenyum.
" Apa kau lapar? " Tanya Yuda.
" Yaa, aku ingin segera pulang Yud "
" Kau mau kuantar ? " Tawar Yuda.
" Tidak perlu "
" Tak bisakah kau menemani dulu ? " Tanya Yuda.
" Ada apa denganmu ? "
" Aku .. Aku .. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku hari ini bersamamu, bolehkah ? "
Aku tertawa. Tapi Yuda tetap memasang wajah serius tanpa sedikitpun memasang mimik tawa. Aku pun berhenti tertawa, kupikir ini sekarang malah tak lucu.
" Kau aneh " ucapku.
" Aku serius, aku benar benar ingin bersamamu " Tambah Yuda.
Aku terdiam. Aku heran. Aku tak bisa berbicara sedikit pun. 'Ada apa dengan yuda?' Batinku.
" Kau ingin menemaniku? Kumohon, hari ini saja " ujar Yuda lagi.
" Baiklah " jawabku singkat. Yuda pun menarik tanganku.
" Kau mau membawaku kemana ? " Tanyaku cepat.
" Kau akan tau nanti " jawab Yuda senang.
" Aku ingin ketoilet dulu " ujarku. Dengan setengah berlari aku menuju toilet sekolah, segera ku hubungi Dimas untuk memberitahu bahwa aku tak bisa makan siang bersamanya.
" Halo, kau dimana Mey? Daritadi aku menunggumu disini. " Ujar Dimas.
" Aku, aku ada urusan. Aku tak bisa makan siang bersamamu "
" Apa kau lama? " Tanya nya lagi.
" Tidak, mungkin hanya sejam saja. "
" Setelah urusan mu selesai, kau akan kerumah mu Kan?"
"Iya, kenapa ?"
" Baiklah, aku akan menunggumu ditaman dekat rumahmu, awas jika kau tak muncul sejam lagi "
" Hey, aku tak.... " Ujarku cepat tetapi ternyata Dimas sudah memutuskan telefonnya. Akupun mengirim sms ke Dimas.
" Aku tak janji bisa menemui mu satu jam kemudian di taman. Aku punya urusan penting saat ini. Jika sejam kemudian aku tak muncu dan tak memberimu kabar, kusarankan kau lebih baik pulang " bunyi sms ku.
Setelah itu, akupun segera menyusul Yuda yang sedang menungguku didepan kantin. Dia menggandeng tangan ku dan membawaku ketempat parkiran. Tempat dimana mobilnya terparkir. Aku pun memasuki mobilnya. 20 menit kemudian sampailah kami didepan sebuah panti asuhan yang terletak di sedikit pinggiran kota. Aku pun heran, 'buat apa Yuda membawaku kesini?' Batinku. Aku ingin sekali bertanya, tetapi bibirku serasa dikunci. Sejak tadi aku malas berbicara.
Yuda pun turun dari mobilnya, dia disambut anak anak panti yang kebanyakan kira-kira masih berumur 5-10 tahun. Lalu Yuda pun mengambil kan dua dos barang dari mobilnya, entah barang apakah itu. Setelah dia mengambilnya, diapun membuka dos itu dan membagikan anak-anak panti tersebut permainan. Aku terkejut. Aku semakin kagum padanya. Aku semakin mengidolakannya.
" Mey, ayo sini. Jangan bengong saja disitu " ajak Yuda memecahkan lamunanku. Akupun mengikuti Yuda bermain dengan anak-anak di Panti tersebut. Aku yang mulai lelah menemani anak anak lainnya bermain pun duduk di teras Panti itu, tiba-tiba seorang anak kecil mendekatiku.
" kakak pacar kak yuda ? " Tanyanya.
" Bukan, aku sahabatnya " jawabku cepat.
" Oh ya ? "
" Tentu saja " jawabku tengah tertawa kecil.
" Kau gadis yang lucu. berapa umur mu dek? " Tanyaku sambil mencubit pipi anak itu.
" 6 tahun " jawabnya kemudian meninggalkanku dengan setengah berlari menuju ke Yuda. Aku tersenyum. Kuliat jam pada jam tanganku. Sudah jam 4 sore. 'Semoga Dimas tak menungguku' batinku.
" Seseorang sedang menunggumu ? " Tanya Yuda memecahkan lamunanku.
" Hah ? Tidak. Kenapa kau bertanya seperti itu? "
" Sejak tadi kau melirik jam tangamu " jawab Yuda santai kemudian mengambil posisi duduk disampingku.
" kau liat anak anak itu " ujar Yuda sambil menunjuk anak-anak panti yang sedang bermain didepan kami.
" Mereka tidak pernah merasakan kasih sayang dari orangtua asli mereka, dan mereka tau itu. Tetapi mereka tetap tersenyum. Mereka tak pernah merasa putus asa " tambahnya.
" Mereka tetap ceria walau sesungguhnya mereka sering menangis dibalik keceriaan itu " lanjutnya.
aku menganguk pelan.
" Setidaknya mereka beruntung " ujarku menanggapi Yuda.
" Ya, kau benar. Mereka beruntung. "
" Mereka beruntung karena mereka bisa berkumpul seperti ini " tambahku.
" Aku juga beruntung mempunyai sahabat seperti mu " ujar Yuda kemudian memandangku. Aku tersenyum.
" Beberapa hari kau menghindariku aku.. "
" Hey, aku tak pernah menghindarimu " potongku.
Yuda tertawa kecil.
" Ya ya, kau tak menghindariku tetapi hanya menjaga jarak denganku bukan ? "
" Tidak juga " jawabku cepat.
" Oke, beberapa hari jauh darimu, aku.. Aku merasa.. Merasa kalo aku, aku merindukanmu " ujar Yuda dengan gagap.
" Aku juga merindukanmu sobat " jawabku cepat dengan santai.
" Tapi aku sadar, aku bukan merindukanmu sebagai sahabat, tetapi aku merindukanmu, karena.. Karena aku pikir aku telah mencintaimu " Ujar Yuda. Aku ternganga. Aku tak bisa berkata apapun. spechless abis.
" Aku mencintaimu " ulang Yuda.
Aku menghela nafasku dalam-dalam. Aku membalikkan tubuhku dari arahnya. Aku benar-benar merasa ini semua mimpi.
" Apa kau masih merasakan hal yang sama ? " Tanya Yuda Lagi. Aku diam. Aku masih belum percaya. Kucubit tanganku dengan kasar, berharap ini bukanlah mimpi. Dan ketika ku mencubitnya, aku merasa sakit sendiri. Yuda hanya tertawa geli meliat tingkahku.
" Tentu, aku mencintaimu " jawabku cepat ketika aku menyadari ini semua bukan mimpi.
Yuda memelukku dengan Erat.

Wednesday, April 13, 2011

Cerita Singkat Part III

Setelah aku menolak Dimas mentah mentah, dia malah semakin dekat denganku. bukan hanya dekat denganku, tetapi dia juga menjadi akrab dengan Yuda. selama beberapa minggu kami bertiga menjadi sangat akrab. Sering jalan bersama dan juga selalu mengerjakan tugas bersama-sama padahal kelas kami bertiga berbeda dan sudah pasti tugas dan gurunya pun berbedaa.
Sore ini kami berencana untuk makan siang di restoran langganan kami. restoran kita bertiga :-D Dimas yang mempunyai jiwa kocak menceritak cerita cerita yang konyol. sesekali aku melirik Yuda yang sedang tertawa mendengarkan cerita Dimas. Aku merasa Bahagia. kebahagian bukan dengan memiliki orang yang kita cintai saja, tapi kebahagiaan itu ada ketika kau bisa meliat orang yang kau cintai bahagia. Dan itu yang aku rasakan saat ini.
ditengah-tengah Dimas bercerita, mataku berhenti pada seseorang yang wajahnya sangat familiar. Yuda pun juga menatap orang itu. ya, dia adalah Dwi. Dwi dan kekasihnya.
Aku melirik mata Yuda, tampak dari matanya dia sedang merasakan cemburu yang sulit diungkapkan melalui kata-kata lagi.
Meliat Dwi dan kekasihnya, Tampak dari mata Yuda, kegembiraan yang tadi dirasakan nya lenyap. begitupun aku.
" Kau terlalu sibuk mengurusi perasaanmu sendiri tanpa sadar seseorang yang selalu disampingmu menyimpan perasaan padamu " Ujar Dimas tiba-tiba. Kalimat yang diucapkan Dimas bagai menghantam ku.
" apa maksudmu? " tanya Yuda kaget.
" kau pria bodoh " ujar Dimas Acuh.
aku mencoba tertawa, mencoba mencairkan suasana yang mulai beku. mencoba agar Yuda merasa bahwa Dimas hanya sedang bercanda. yah bercanda seperti biasanya.
" siapa orang yang kau maksud itu? " tanya Yuda tanpa memperdulikan tawaanku.
" siapa wanita yang selama ini dekat dan memahami mu? " tanya Dimas. Yuda memalingkan wajahnya menuju arahku. dia menatap ku tajam. aku salah tingkah.
" mey " panggil Yuda dengan nada tak percaya.
" tentu saja tidak. tak mungkin aku menyukaimu. kita sahabat bukan? " ujarku cepat seakan-akan bisa membaca fikiran Yuda.
" mey mencintaimu Yud " Ujar Dimas Lagi.
" kau terlalu sibuk mengurusi wanita yang sama sekali tidak mempedulikanmu sementara kau menyia nyiakan wanita yang sanag mencintaimu dan memahami mu " tambah Dimas Lagi.
" dimas! " Bentakku marah.
" kita sahabat mey, kau tak mungkin menyukaiku " ujar Yuda dengan nada tak percaya. aku menganguk.
" tentu saja, kita sahabat. dan aku tak mungkin menyukaimu. kau tak boleh percaya dengan apa yang Dimas ucapkan. dia hanya bercanda. kau tau kan dimas suka bercanda. dia hanya sedang mempermainkanmu " ujarku mencoba meyakinkan Yuda.
" mey, sudah lah, kau tak bisa terus terus berbohong pada perasaanmu sendiri padahal kau sangat rapuh " Marah Dimas.
" kau mencintai Yuda " serunya lagi.
 " ya, aku mencintai Yuda " teriakku dengan nada yang lumayan besar hingga bisa membuat tamu tamu memperhatikan kami. aku merasa begitu tertekan. disatu sisi aku ingin jujur akan perasaanku selama ini. disisi lainnya aku tak ingin sikap Yuda akan berubah setelah mengetahui perasaanku yang sesungguhnya.
" aku mencintaimu Yuda " ulangku lagi. Yuda terdiam tanpa ekspresi. Dimas hanya tersenyum simpul.
" aku meencintaimu sejak kita awal bertemu. aku sangat mengagumi mu " tambahku lagi.
" tidak. Aku tak bisa mhey " ujar Yuda lirih.
" aku tak menginginkan kau membalas perasaanku, kau tak perlu membalas perasaanku. seperti yang kau lakukan pada Dwi, ingin melihat dwi bahagia karena kau mencintainya. begitu pun denganku. aku tak berniat memiliki  mu kini. aku hanya ingin meliat mu bahagia entah itu bersama siapa. aku hanya ingin bisa meliat senyummu yang terus terukir. " Jelasku dengan nada parau.
" kau puas dimas? " tanyaku pada Dimas dengan nada sedikit menantang. Dimas hanya terdiam kemudian meninggalkanku dan Yuda.
" aku harap kau bisa melupakan hari ini. dan tetaplah bersikap sebagai sahabatku. jangan berubah karena apa yang aku ungkapkan hari ini " ucapku kemudian meninggalkan Yuda sendiri.
aku berjalan dengan cepat. aku ingin tidur saat ini juga. aku ingin tidur untuk melupakan sejenak masalah yang kualami hari ini. dengan langkah gontai aku meninggalkan restoran itu. tiba-tiba hp ku berbunyi. Dimas menghubungiku, dengan cepat aku mengangkatnya.
" kau puas? terimakasih. karena kau, aku bisa menunjukan kebodohan dan kerapuhanku didepan orang yang aku cintai " sindirku tajam dari balik telefon.
" aku tak ingin meliatmu bersedih. aku melakukan ini karena aku mencintaimu. aku tak bisa meliatmu terus bersedih. kuharap Yuda bisa sedikit sadar dan bisa menerimamu sebagai kekasihnya. walaupun nanti itu akan sangat menyakitkan hatiku " ujar Dimas.
" kau sama sekali tak membantuku. kau hanya semakin menyulitkanku " bentakku.
" aku hanya ingin meliat orang yang aku cintai bahagia. mungkin sekarang kau berkata itu tak membantu. tapi kuharap ini adalah pembuka kebahagiaanmu. aku bahagia saat kau bahagia. dan tangismu adalah bagian kesedihanku " Ucap Dimas.
" aku mencintaimu! " seru Dimas Lantang.
aku mematikan telefonku, kucabut batterai nya kemudian kembali menyimpannya.
baik, yang kubutuhkan saat ini adalah tidur. dengan tidur aku bisa melupakan dan menenangkan pikiranku yang sangat kacau balau.


*Bersambung*

Tuesday, April 12, 2011

Cerita Singkat Part II

Akhir akhir ini aku tak seceria seperti sebelum sebelumnya. Kecerianku tiba-tiba lenyap. Melihat Yuda terus bersedih membuat ku juga bersedih.
" kau bilang, melihat orang yang kau cintai bahagia kau juga akan bahagia, tapi mengapa kau selalu tampak bersedih? " tanyaku suatu hari kepada Yuda. Yuda tersenyum menanggapi Pertanyaanku tanpa berbicara sepatah katapun.
" kau belum bisa menerima semua ini? " tanyaku lagi.
Yuda menarik nafas nya dengan panjang, lalu memandang kearahku secara tajam.
" meliat orang yang kucintai bahagia itu sudah lebih dari cukup, aku juga bahagia. Itu yang Kumau. aku ingin bahagia meliat orang yang kucintai bahagia. tapi perasaan ku tidak mey.. hatiku tetap sakit " jawabnya.
aku terdiam. kemudian menganguk pelan.
" aku semakin kagum padamu " ujarku pelan. pelan, tak bermaksud agar Yuda menanggapinya. hanya berbicara pada diriku sendiri.
" apa? " tanya Yuda seakan akan tidak percaya dengan apa yang kukatakan barusan.
" hah? tidak. aku hanya suka dengan kalimat yang baru kau ucapkan " sangkalku.
Yuda Tersenyum kemudian dia membalikan arahnya dari ku.
" Cinta adalah hal yang rumit mey, karena cinta adalah masalah Hati. " ujar Yuda Lagi.
aku tertawa kecil.
" apa yang lucu? " Tanya Yuda.
" kau terlalu puitis Yud, kau seperti bukan Yuda yang kukenal dulu. kemana jiwa lawakmu? " tanyaku dengan mimik serius.
Yuda hanya tersenyum kecut. ya, semenjak dia putus dengan Dwi, Yuda tak seceria lagi seperti dulu.
" aku balik dulu ya, hmm kau mau kuantar pulang? " Tawar Yuda. aku menggeleng.
" tak perlu, terimakasih. aku Masih ingin singgah ditoko buku dulu "
" aku bisa mengantarmu. aku juga ingin membeli buku. " tawarnya lagi.
" aku ingin pergi bersamamu. tapi aku sudah janjian dengan Dimas. sepertinya dia juga sudah menungguku didepan gerbang " bohongku. entah mengapa hari ini aku tak ingin Jalan bersama Yuda. Aku tak bisa meliat wajahnya yang selalu tampak bersedih.
" hm okelah " ucap Yuda dengan nada kecewa.
setelah Yuda pergi, aku pun mengambil ponsel ku didalam tas merahmuda ku. aku menekan nomor Dimas.
" kau dimana ? bisa menemaniku ? " ujarku melalui telefon.
" tentu saja. aku sekarang di depan sekolah. kau dimana ? " jawabnya dengan nada yang ceria.
" aku turun sekarang " ujarku datar. beberapa bulan yang Lalu, Dimas pernah menyatakan perasaannya padaku. dan tentu saja aku menolaknya. akhir akhir ini Dimas kembali mendekatiku. Aku tak merasa terganggu sama sekali. Dan aku merasa sedikit terhibur dengan kehadirannya. mungkin dia adalah sebuah kesempatan untukku agar bisa melupakan Yuda.
" kau ingin aku menemanimu kemana ? " Tanya Dimas.
" hmm, aku tak punya rencana. kau tau dimana tempat yang baik untuk menghilangkan stres? "
" tentu saja " Jawab Dimas cepat. akupun mengikuti langkah Dimas menuju parkiran mobilnya. dia membukakanku pintu dengan sopan.
Beberapa menit kemudian sampai lah kami disebuah tepian danau.
" ternyata kau juga menyukai tempat tenang seperti ini. kupikir kau pria yang senang berfoya foya " Ujarku sedikit kagum ketika mobilnya berhenti tepat dipinggir danau. Dimas tersenyum.
aku pun duduk dikursi yang tersedia disamping dana itu. aku menarik nafasku dengan panjang.
" kau sedang punya masalah ? " Tanya Dimas.
" kau tau bukan masalaah apa yang kutemui tiap hari? " jawabku acuh.
Dimas Tersenyum. aku memandang air didanau yang jernih itu. tampak bayangan wajahku dan Dimas.
" Yuda beruntung sekali " ujar Dimas sambil meleparkan batu didanau.
aku tersenyum. kalimat itu kalimat yang sering dilontarkan Dimas.
" aku iri padanya " Tambah Dimas lagi dengan nada lirih. aku tak menggubris kalimat terakhir Dimas. karena aku sudah mengerti apa yang dimaksudnya.
" apa kau bisa memberikanku kesempatan untuk menjadi orang yang beruntung seperti Yuda? " Tanya Dimas sambil menatap mataku dengan Tajam.
Aku terdiam. aku menundukan kepalaku.
" maafkan aku " Ujarku kemudian.
" aku mencintai mu Mey, benar benar mencintai mu. aku tak akan menyia nyiakan mu seperti Yuda menyia nyiakanmu. " ujar nya Lagi.
" maafkan aku. tapi aku sama sekali tak merasakan apa apa terhadapmu " Jawabku.
" apa kau tak bisa mencoba nya? "
" Cinta itu muncul dengan sendirinya. Aku tak bisa memaksakan perasaanku walaupun aku sangat ingin "
" bukankah kita bisa menjadi sepasang kekasih dulu lalu Cinta itu pasti akan muncul? "
" kau mencintaiku? apa kau tulus mencintaiku? " tanyaku dengan nada serius.
" ya tentu saja "
" cinta gak harus memiliki dimas. kalau kau mencintaiku tentu kau tak akan memaksaku untuk bisa mencintaimu. "
Dimas terdiam begitupun denganku.
" aku mencintai yuda. dan kau tak bisa memaksaku untuk mencintaimu " ujarku lagi.
" aku tak bisa meliatmu terus bersedih seperti ini Mey, aku tak bisa meliatmu jauh lebih sakit mencintai Yuda "
" aku jauh tak bisa meliatmu terlalu dalam mencintaiku sementara aku tak akan bisa mencintaimu. " ujarku tersenyum.
" kuharap kau mengerti dengan perasaanku. "  Ujarku lagi. Dimas menganguk pelan.
" lupakan Aku. buanglah aku jauh jauh dari hatimu " tambahku lagi.
Aku bisa saja menerima perasaan Dimas jika aku tak memiliki perasaan. Aku mungkin sedikit tertarik dengan Dimas. tapi itu hanya rasa tertarik! tidak akan lebih. dan aku tidak akan pernah bisa mencintainya.
Aku tak ingin menyakiti Dimas. Aku tak ingin dia semakin dalam mencintaiku. aku tak ingin meliat orang yang tulus mencintaiku harus merasakan sakitnya mencintai.

*bersambung*

Monday, April 11, 2011

Cerita singkat (entah Judul apa yang Baik)

aku bersahabat dengannya sejak kelas 1 sma. kami berkenalan saat MOS hari pertama. Ya, dia adalah pria yang baik dan tampan. hmm, tidak. orang-orang berkata dia tak Tampan, tapi Jujur sikapnya membuat dia terlihat Tampan dimataku.
Aku menyukainya semenjak dia membantuku menyelesaikan masalah ku disekolah. aku mengaguminya. menurutku dia pria yang sangat gentle.
Caraku menunjukan rasa suka ku kadang-kadang terlihat berlebihan didepan kawan kawanku yang lain. tentu saja tidak terlihat didepan nya. aku sering terliat sangat Lebay ketika dia mulai menebarkan pesonanya. tentu saja ketika dia sudah tak tampak. biarlah orang lain menilaiku seperti apa, yang jelas aku bahagia dengan perasaan dan sikap seperti ini.
sampai kini, aku masih menyukainya. dia semakin terlihat hebat diamataku. seluruh sikapnya terlihat istimewa dimataku. namanya saja Love Is Blind. haha..
Yuda. ya, namanya Yuda. Yuda adalah seseorang yang mencuri hatiku, tepatnya menempati ruang dalam hatiku selama satu tahun ini.da adalah seseorang yang istimewa dimataku. seseorang yang hebat dimataku. seseorang yang sangat ku kagumi. seseorang yang akan selalu menjadi sahabatku, ya, tidak lebih :(
Yuda tak akan mungkin bisa menjadi milikku. Perasaanku tak mungkin akan terbalas olehnya. Dia hanya menganggapku sebagai saudara dan sahabat. tidak lebih.
Yuda yang kukenal, adalah pria yang sangat setia. yang kutau hingga kini dia masih menyukai Dwi. Dwi adalah Wanita yang sangat beruntung tetapi sangat Tolol. Status Dwi dan Yuda sekarang hanyalah sebagai mantan Kekasih.
beberapa Bulan yang Lalu, Dwi telah mengakhiri hubungannya bersama Yuda dengan alasan bahwa Dwi sudah tak mencintai Yuda Lagi. Itu berita baik buatku, akhirnya aku bisa keluar dalam kesedihan dan kekecewaan yang sangat luarbiasa. tapi aku kembali menyadari, buat apa bahagia melihat orang yang aku cintai tak bahagia? buat apa mencari kebahagian dari orang yang ku cintai lalu melihat orang yang aku cintai malah tersiksa sendiri? apa Guna nya senyuman yang terukir dibibir ku sendiri tetapi meliat orang yang kucintai malah bersedih? Kusimpulkan, Cinta gak harus memiliki. cukup meliat orang yang kucintai bahagia itu cukup. ya, cukup dikatakan CINTA SEJATI.. cinta yang tetap terukir dengan senyuman dari kedua pihak. bukankah senang meliat orang yang kita cintai bahagia? walapun itu menyiksa perasaan kita sendiri, tapi kesedihan itu bisa terhapus dengan meliat senyumannya.
sejak aku menyadari kesalahanku menyimpulkan Cinta itu Adalah Memiliki, aku pun berusaha menyatukan Dwi dan Yuda. berbagai Usaha kulakukan. tapi jujur, usaha itu membuat aku semakin tersiksa. Walaupun usaha itu tak terliat berhasil, tapi aku sangat tersiksa meliat diriku terliat bodoh menyatukan orang yang aku cintai dengan seseorang yang amat tak memiliki perasaan.
di tengah Usaha menyatukan mereka, ternyata Dwi sudah memiliki pasangan baru. mereka terliat sangat mesra. dan itu membuat Yuda sangat terluka. suatu hari aku dan Yuda meliat Dwi bergandengan dengan mesra dihalaman sekolah. kuliat Yuda menatap mereka berdua dengan pandangan putus Asa. Aku tau, hatinya pasti sangat teriris. sangat.
" Terimakasih mey, terimakasih untuk usahamu " ucapnya waktu itu dengan tersenyum simpul menatap Dwi dan pacar barunya.
aku berbalik kearahnya.
" tapi ini sudah cukup, aku sudah bahagia meliat nya tersenyum bersama pria itu. walaupun jujur hatiku sangat sakit " lanjut Yuda.
Aku diam, Aku tak bisa meliat orang yang Aku cintai dan kukagumi harus merasa sakit karena wanita yang tak menyadari kesalahannya.
" Kebahagian dia adalah Kebahagianku. walaupun aku tak bisa memilikinya, tetapi aku senang memiliki senyumnya. walaupun senyumnya itu hanya kuliat dari arah yang jauh " ujarnya lagi kemudian berbalik kearahku sambil tersenyum. aku menganguk pelan. ya, itu cinta yang Kusimpulkan. 'Kau benar Yud, dan itu yang kulakukan juga untukmu' batinku. aku tersenyum.
CInta Gak harus Memiliki, cukup meliat Orang Yang kita Cinta itu bahagia, Itu sudah lebih dari Cukup. Walaupun Yuda tak bisa kumiliki sebagai seorang pacar, tapi aku bisa memilikinya sebagai sahabat. Walaupun aku tak bisa membuatnya tersenyum karena menyukaiku, tapi aku bisa meliatnya tersenyum karena orang yang dicintainya.
Bukankah itu Cinta Sejati ? :)


*bersambung*