Hari ini aku dan Yuda resmi menjadi seorang kekasih. Hari ini adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu. Hari yang sangat sakral buat aku. Pukul 5.30 Yuda mengantarku pulang kerumah. Karena sudah sangat bahagia aku tak memperhatikan lagi Cuaca sore ini. Aku melemparkan pandanganku diluar jendela. Ternyata sore ini hujan sangat deras. Aku tersenyum. Aku sangat menyukai hujan. Yuda yang meliatku tersenyum langsung memegang erat tanganku. Diapun sangat tau kalo aku memang sangat menyukai Hujan.
Pukul 5.50 sampailah aku didepan rumah, sebelum aku turun, Yuda mengecup keningku.
" Aku mencintaimu " ujarnya. Aku hanya tersenyum. Senang sekali aku hari ini.
Akupun memasuki rumahku dengan setengah berlari karena memang hujan sore ini sangat deras. Aku melambaikan tanganku kearah Yuda. Kuliat Yuda tersenyum.
Aku pun memasuki kamarku dengan senyum yang terus melekat dibibirku. Aku melemparkan tubuhku kekasur, kuraih handphone sejak tadi tak ku sentuh sedikitpun. Betapa terkejutnya ketika aku meliat 14 sms dari Dimas dan 5 panggilan tak terjawab.
" Aku masih menunggumu, kau dimana? Aku tak akan kembali sampai kau mau menemuiku " bunyi sms terakhir dari Dimas. Kuraih jaket merah mudaku kemudian dengan setengah berlari menyusul Dimas yang ada ditaman. Tak peduli lagi hujan yang begitu deras. Aku sudah tak peduli dengan diriku.. Dari jauh, kulihat sosok Dimas. Aku memperlambat jalanku. Aku terkejut meliat sosok Dimas tetap duduk di kursi taman dan dia tampak basah. Aku memanggilnya. Dia menatapku kemudian tersenyum.
" Kenapa kau masih menungguku disini ? Liat dirimu, kau basah kuyup " marahku. Dia hanya tersenyum dan meraih tanganku.
" Aku ingin memberikanmu ini " ujarnya sambil memberikanku sebuah Kalung dengan liontin yang manis.
" Tidak, aku tak pantas mendapatkannya "
Dimas menggeleng.
" Kau pantas. Kau satu-satunya gadis yang kucintai. Kau gadis yang membuat ku merasa sangat berarti " Ujarnya.
" Maaf, aku tak ingin menerimanya "
" Aku mohon " pintanya. Kuliat tubuh Dimas, dia menggigil. Aku tak tega meliatnya. Dia tampak sangat menggigil.
" Singgahlah dirumahku " perintahku sambil menuntunnya berjalan. Aku tak menyangka dia sudah menungguku selama 2 jam ditemani hujan yang begitu deras. Kuliat wajah dimas sedikit pucat. Tentu saja, mana mungkin bisa tak pucat jika 1 jam lebih terkena Air Hujan yang begitu deras. Aku terus menuntunnya untuk kerumah. Untung saja Taman dan rumahku tak terlalu jauh.
Sesampaiku dirumah, aku segera mengambil kaus bajuku yang longgar. Ku suruh bibi untuk menyiapkan airpanas untuk Dimas gunakan mandi. Setelah itu aku menyuruh dimas untuk mandi dan mengganti bajunya yang sudah sangat basah. Sementara itu aku sibuk menyiapkan susu panas untuknya. Beberapa menit kemudian keluarlah dimas dari kamar mandi dengan wajah yang sedikit pucat. Aku menyuruhnya untuk meminum susu yang telah kusiapkan untuknya.
" Kau suka kalungnya? " Tanya dimas setelah menegukkan susunya. Ya, aku ingat kalung yang diberikannya. Segera ku rogehkan kantong pada bajuku dan mengambil sebuah kalung yang barusan tadi diberikan Dimas. Aku memandang kalung itu sebentar ' sangat cantik ' batinku. Akupun meletakkan kalung itu dimeja depan Dimas.
" Kenapa? Apa kau tak menyukainya? " Tanya Dimas dengan nada kecewa.
" Aku menyukainya, kalung ini sangat cantik. Tapi maaf aku tak bisa menerimanya. " Jawabku.
" Kenapa? "
" Aku tak pantas mendapatkannya. Berikanlah pada wanita yang pantas mendapatkannya "
" Kau pantas. Kalung ini hanya indah jika kau yang menggunakannya " ujar Dimas meyakinkanku.
" Tidak. Berikanlah pada wanita yang mencintaimu " ujarku lagi. Dimas mengernyitkan keningnya. Dia memaksakan senyumnya kemudian mengambil kalung itu dan menyimpannya dikantong celana yang kupinjamkan.
" Apa kau tak akan pernah bisa mencintaiku? " Tanya Dimas lirih.
" Maaf. Aku hanya mencintai Yuda. " Jawabku. Dimas tersenyum kemudian berdiri dari meja makan. Dia meraih kunci mobinya yang terletak di meja sampingnya. Kemudian dia menuju pintu keluar dari rumahku.
" Anyway thanks baju pinjamannya. Besok pasti kukembalikan. " Ujar Dimas sebelum keluar dari rumahku. Aku hanya menganguk kecil. Kutatap sosok Dimas yang semakin lama semakin jauh hingga hilang. Tiba-tiba aku merasa sakit disatu bagian dalam hatiku. Entah kenapa aku merasakan hal ini. Aku merasa kecewa pada diriku sendiri. Kecewa? Aku tak tau pasti mengapa aku merasa kecewa. Aku tak kuat meliat wajah Dimas yang terlihat pucat tadi. Aku merasa sakit meliat wajah Dimas tampak kecewa. Bunyi sms memecahkan lamunan ku. Segera ku buka kunci pada handphoneku. Ternyata sms itu berasal dari Yuda.
" Aku mencintaimu. Aku menyesal baru menyadari ini semua. Ku harap kau adalah yang terbaik dalam hidup ku. Sekali lagi, AKU MENCINTAIMU " bunyi sms itu.
Aku memandang jauh diluar rumahku. Entah mengapa aku tak merasa bahagia membaca sms itu. Entah mengapa aku tak merasa sedang di sms orang yang aku cintai.
Aku merasa hal ini hanya hal biasa saja. Kenapa aku bisa sakit meliat Wajah Dimas yang tampak pucat tetapi aku tak bahagia membaca sms Yuda yang sedang mengatakan perasaannya padaku? Ada apakah ini? Batinku. Aku menunduk. Kubaca sms itu berulang ulang sampai aku bosan membacanya. Aku melempar bayanganku kearah luar rumah. Aku terkejut. Aku meliat Dimas yang sedang berlari menuju ke rumah. 'Apa yang ketinggalan?' Batinku.
Aku pun keluar dari rumahku menuju teras rumahku. Dimas mengulurkan sebuah Kalung yang tadi kukembalikan padanya. Aku melongo heran.
" Bukan kah sudah kukatakan aku tak ingin menerimanya? " Ujarku. Dimas diam. Dia meraih tanganku, dan menyimpan kalung itu ditangan ku kemudian menutup tanganku.
" Ambillah. Aku berniat memberikan kalung ini pada orang yang kucintai saat ini. Aku tak mungkin memberikannya pada wanita lain " ujarnya.
" Kalung ini kuanggap kalung sial. Aku tak mungkin memberikannya kewanita yang kucintai nanti. " Tambahnya. Aku membisu. Aku tak tau harus berkata apa lagi. Tiba-tiba aku kembali merasakan sakit pada satu bagian dihatiku. Jantungku berpacu dengan keras sehingga aku bisa sangat merasakannya. Mengapa seperti ini?.
" Kalau kau tak menyukai kalung ini, kau bisa membuangnya atau memberikannya pada orang lain. Aku tak peduli. Dan aku tak akan menanyakannya padamu. Aku tak mungkin memberikan kalung yang ingin kuberikan padamu tuk diberikan ke gadis yang akan kucintai nanti " ujar Dimas lagi.
Aku tetap membisu. Aku mencoba menguasai rasa yang semakin hebat ini.
" Terimakasih. Aku balik " pamit Dimas. Aku tetap membisu. Aku terus menatap Dimas yang semakin jauh tanpa berkedip sedikitpun. Walaupun malam semakin gelap, aku tetap bisa meliat Dimas yang semakin jauh hingga lenyap dari ujung mataku
Aku mencoba menghela nafas yang paling dalam. Ah rasa apa yang sedang bergejolak dihatiku ini? Hingga aku tak bisa lagi menguasainya. Perasaan apa ini? Aku takut. Benar benar takut. Aku terus terpaku, terbawa suasana malam yang begitu mencekam. Duduk termangu didepan teras. Sesekali kalung itu kutatap. Sungguh cantik, ya cantik jika dia memberikan kalung itu pada orang yang dia sayangi dan menyayanginya. Setengah jam aku terpaku didepan teras, tak satupun suara yang mampu memecahkan lamunanku. Hingga aku menyadari perasaan apa yang sedang bergejolak ini.
" Apa kah aku telah mencintai Yuda? " Tanyaku pada diriku sendiri. Aku terkejut mendengar pertanyaanku sendiri. Kucoba menghilang kan pikiranku itu. Aku mencoba mengelak sendiri.
" Kenapa kau tak masuk? " Tanya Doni memecahkan lamunanku. Doni adalah kakakku.
" Aku ingin disini dulu " jawabku singkat tanpa bergerak sama sekali.
" Kau ada masalah ? Kau bisa menceritakannya padaku " tawarnya. Aku hanya terdiam. Aku tak tahu harus bercerita darimana.
" Hey, ceritalah padaku " tambahnya lagi memecahkan sunyi.
" Tadi.. Tadi.. Tadi Yuda menyatakan perasaannya padaku.... Dia Mencintaiku kak " ujarku gagap
" Wah, bukankah itu hal yang kau tunggu tunggu? " Tanya Kak Doni dengan wajah cerah ceria.
" Yaaa, tentu saja " jawabku tak bersemangat.
" Kau sudah tak mencintainya lagi? " Tanya Kak Doni yang mulai mengerti akan perasaanku sendiri yang aku sama sekali tak mengerti. Bukan, mengerti hanya saja tak ingin mengerti.
Aku membisu. Aku tak tau harus menjawab apa. Kudengar Kak Doni menghela nafas yang sangat dalam.
" Kau sudah tak mencintainya? " Tanya nya Lagi.
" Aku tak tahu. Hanya saja aku, aku, aku merasa " jawabku tersendat sendat tak melanjutkan jawabanku selanjutnya.
" Kau mencintai lelaki tadi yang kerumah? " Tanyanya. Membuatku spontan kaget. 'Darimana dia tau Dimas kerumah tadi? Setauku dia baru datang' Batinku.
" Tak perlu kaget. Jawab saja pertanyaanku " tambahnya.
" Tidak. Aku, aku tak mencintainya. Ah entahlah. Aku sendiri tak mengerti akan perasaanku sendiri menurutmu bagaimana kak? "
" Mana aku tau. Makanya aku bertanya. "
Aku menghela nafas.
" Pria tadi itu Dimas ? " Tanya kak Doni lagi.
Aku menganguk. Kak Doni tersenyum.
" Kau akan menyadari bahwa kau sedang jatuh cinta pada saat kau merasa kehilangan karena kau membutuhkannya " ujar Kak Doni kemudian meninggalkanku. Aku mencerna baik-baik kalimat yang diberikan Kak Doni. Tak kutemukan jalan keluar untuk memecahkan masalah perasaanku ini.
Aku menghela nafas panjang. Tetap dia terpaku didepan teras adalah pilihanku untuk malam ini. Menemani sunyi malam yang semakin mencekam. Tiba2 dari dalam Bunda berteriak menyuruhku masuk kedalam karena malam semakin larut. Ya, kuliat pada jam tanganku, jan sudah menunjukan pukul 10 malam. Akupun masuk kedalam rumah dan terlelap. Tidur mungkin adalah solusi yang baik untuk malam ini. Melupakan sejenak masalah hati.