Pages

Tuesday, April 12, 2011

Cerita Singkat Part II

Akhir akhir ini aku tak seceria seperti sebelum sebelumnya. Kecerianku tiba-tiba lenyap. Melihat Yuda terus bersedih membuat ku juga bersedih.
" kau bilang, melihat orang yang kau cintai bahagia kau juga akan bahagia, tapi mengapa kau selalu tampak bersedih? " tanyaku suatu hari kepada Yuda. Yuda tersenyum menanggapi Pertanyaanku tanpa berbicara sepatah katapun.
" kau belum bisa menerima semua ini? " tanyaku lagi.
Yuda menarik nafas nya dengan panjang, lalu memandang kearahku secara tajam.
" meliat orang yang kucintai bahagia itu sudah lebih dari cukup, aku juga bahagia. Itu yang Kumau. aku ingin bahagia meliat orang yang kucintai bahagia. tapi perasaan ku tidak mey.. hatiku tetap sakit " jawabnya.
aku terdiam. kemudian menganguk pelan.
" aku semakin kagum padamu " ujarku pelan. pelan, tak bermaksud agar Yuda menanggapinya. hanya berbicara pada diriku sendiri.
" apa? " tanya Yuda seakan akan tidak percaya dengan apa yang kukatakan barusan.
" hah? tidak. aku hanya suka dengan kalimat yang baru kau ucapkan " sangkalku.
Yuda Tersenyum kemudian dia membalikan arahnya dari ku.
" Cinta adalah hal yang rumit mey, karena cinta adalah masalah Hati. " ujar Yuda Lagi.
aku tertawa kecil.
" apa yang lucu? " Tanya Yuda.
" kau terlalu puitis Yud, kau seperti bukan Yuda yang kukenal dulu. kemana jiwa lawakmu? " tanyaku dengan mimik serius.
Yuda hanya tersenyum kecut. ya, semenjak dia putus dengan Dwi, Yuda tak seceria lagi seperti dulu.
" aku balik dulu ya, hmm kau mau kuantar pulang? " Tawar Yuda. aku menggeleng.
" tak perlu, terimakasih. aku Masih ingin singgah ditoko buku dulu "
" aku bisa mengantarmu. aku juga ingin membeli buku. " tawarnya lagi.
" aku ingin pergi bersamamu. tapi aku sudah janjian dengan Dimas. sepertinya dia juga sudah menungguku didepan gerbang " bohongku. entah mengapa hari ini aku tak ingin Jalan bersama Yuda. Aku tak bisa meliat wajahnya yang selalu tampak bersedih.
" hm okelah " ucap Yuda dengan nada kecewa.
setelah Yuda pergi, aku pun mengambil ponsel ku didalam tas merahmuda ku. aku menekan nomor Dimas.
" kau dimana ? bisa menemaniku ? " ujarku melalui telefon.
" tentu saja. aku sekarang di depan sekolah. kau dimana ? " jawabnya dengan nada yang ceria.
" aku turun sekarang " ujarku datar. beberapa bulan yang Lalu, Dimas pernah menyatakan perasaannya padaku. dan tentu saja aku menolaknya. akhir akhir ini Dimas kembali mendekatiku. Aku tak merasa terganggu sama sekali. Dan aku merasa sedikit terhibur dengan kehadirannya. mungkin dia adalah sebuah kesempatan untukku agar bisa melupakan Yuda.
" kau ingin aku menemanimu kemana ? " Tanya Dimas.
" hmm, aku tak punya rencana. kau tau dimana tempat yang baik untuk menghilangkan stres? "
" tentu saja " Jawab Dimas cepat. akupun mengikuti langkah Dimas menuju parkiran mobilnya. dia membukakanku pintu dengan sopan.
Beberapa menit kemudian sampai lah kami disebuah tepian danau.
" ternyata kau juga menyukai tempat tenang seperti ini. kupikir kau pria yang senang berfoya foya " Ujarku sedikit kagum ketika mobilnya berhenti tepat dipinggir danau. Dimas tersenyum.
aku pun duduk dikursi yang tersedia disamping dana itu. aku menarik nafasku dengan panjang.
" kau sedang punya masalah ? " Tanya Dimas.
" kau tau bukan masalaah apa yang kutemui tiap hari? " jawabku acuh.
Dimas Tersenyum. aku memandang air didanau yang jernih itu. tampak bayangan wajahku dan Dimas.
" Yuda beruntung sekali " ujar Dimas sambil meleparkan batu didanau.
aku tersenyum. kalimat itu kalimat yang sering dilontarkan Dimas.
" aku iri padanya " Tambah Dimas lagi dengan nada lirih. aku tak menggubris kalimat terakhir Dimas. karena aku sudah mengerti apa yang dimaksudnya.
" apa kau bisa memberikanku kesempatan untuk menjadi orang yang beruntung seperti Yuda? " Tanya Dimas sambil menatap mataku dengan Tajam.
Aku terdiam. aku menundukan kepalaku.
" maafkan aku " Ujarku kemudian.
" aku mencintai mu Mey, benar benar mencintai mu. aku tak akan menyia nyiakan mu seperti Yuda menyia nyiakanmu. " ujar nya Lagi.
" maafkan aku. tapi aku sama sekali tak merasakan apa apa terhadapmu " Jawabku.
" apa kau tak bisa mencoba nya? "
" Cinta itu muncul dengan sendirinya. Aku tak bisa memaksakan perasaanku walaupun aku sangat ingin "
" bukankah kita bisa menjadi sepasang kekasih dulu lalu Cinta itu pasti akan muncul? "
" kau mencintaiku? apa kau tulus mencintaiku? " tanyaku dengan nada serius.
" ya tentu saja "
" cinta gak harus memiliki dimas. kalau kau mencintaiku tentu kau tak akan memaksaku untuk bisa mencintaimu. "
Dimas terdiam begitupun denganku.
" aku mencintai yuda. dan kau tak bisa memaksaku untuk mencintaimu " ujarku lagi.
" aku tak bisa meliatmu terus bersedih seperti ini Mey, aku tak bisa meliatmu jauh lebih sakit mencintai Yuda "
" aku jauh tak bisa meliatmu terlalu dalam mencintaiku sementara aku tak akan bisa mencintaimu. " ujarku tersenyum.
" kuharap kau mengerti dengan perasaanku. "  Ujarku lagi. Dimas menganguk pelan.
" lupakan Aku. buanglah aku jauh jauh dari hatimu " tambahku lagi.
Aku bisa saja menerima perasaan Dimas jika aku tak memiliki perasaan. Aku mungkin sedikit tertarik dengan Dimas. tapi itu hanya rasa tertarik! tidak akan lebih. dan aku tidak akan pernah bisa mencintainya.
Aku tak ingin menyakiti Dimas. Aku tak ingin dia semakin dalam mencintaiku. aku tak ingin meliat orang yang tulus mencintaiku harus merasakan sakitnya mencintai.

*bersambung*

No comments:

Post a Comment