Setelah aku menolak Dimas mentah mentah, dia malah semakin dekat denganku. bukan hanya dekat denganku, tetapi dia juga menjadi akrab dengan Yuda. selama beberapa minggu kami bertiga menjadi sangat akrab. Sering jalan bersama dan juga selalu mengerjakan tugas bersama-sama padahal kelas kami bertiga berbeda dan sudah pasti tugas dan gurunya pun berbedaa.
Sore ini kami berencana untuk makan siang di restoran langganan kami. restoran kita bertiga :-D Dimas yang mempunyai jiwa kocak menceritak cerita cerita yang konyol. sesekali aku melirik Yuda yang sedang tertawa mendengarkan cerita Dimas. Aku merasa Bahagia. kebahagian bukan dengan memiliki orang yang kita cintai saja, tapi kebahagiaan itu ada ketika kau bisa meliat orang yang kau cintai bahagia. Dan itu yang aku rasakan saat ini.
ditengah-tengah Dimas bercerita, mataku berhenti pada seseorang yang wajahnya sangat familiar. Yuda pun juga menatap orang itu. ya, dia adalah Dwi. Dwi dan kekasihnya.
Aku melirik mata Yuda, tampak dari matanya dia sedang merasakan cemburu yang sulit diungkapkan melalui kata-kata lagi.
Meliat Dwi dan kekasihnya, Tampak dari mata Yuda, kegembiraan yang tadi dirasakan nya lenyap. begitupun aku.
" Kau terlalu sibuk mengurusi perasaanmu sendiri tanpa sadar seseorang yang selalu disampingmu menyimpan perasaan padamu " Ujar Dimas tiba-tiba. Kalimat yang diucapkan Dimas bagai menghantam ku.
" apa maksudmu? " tanya Yuda kaget.
" kau pria bodoh " ujar Dimas Acuh.
aku mencoba tertawa, mencoba mencairkan suasana yang mulai beku. mencoba agar Yuda merasa bahwa Dimas hanya sedang bercanda. yah bercanda seperti biasanya.
" siapa orang yang kau maksud itu? " tanya Yuda tanpa memperdulikan tawaanku.
" siapa wanita yang selama ini dekat dan memahami mu? " tanya Dimas. Yuda memalingkan wajahnya menuju arahku. dia menatap ku tajam. aku salah tingkah.
" mey " panggil Yuda dengan nada tak percaya.
" tentu saja tidak. tak mungkin aku menyukaimu. kita sahabat bukan? " ujarku cepat seakan-akan bisa membaca fikiran Yuda.
" mey mencintaimu Yud " Ujar Dimas Lagi.
" kau terlalu sibuk mengurusi wanita yang sama sekali tidak mempedulikanmu sementara kau menyia nyiakan wanita yang sanag mencintaimu dan memahami mu " tambah Dimas Lagi.
" dimas! " Bentakku marah.
" kita sahabat mey, kau tak mungkin menyukaiku " ujar Yuda dengan nada tak percaya. aku menganguk.
" tentu saja, kita sahabat. dan aku tak mungkin menyukaimu. kau tak boleh percaya dengan apa yang Dimas ucapkan. dia hanya bercanda. kau tau kan dimas suka bercanda. dia hanya sedang mempermainkanmu " ujarku mencoba meyakinkan Yuda.
" mey, sudah lah, kau tak bisa terus terus berbohong pada perasaanmu sendiri padahal kau sangat rapuh " Marah Dimas.
" kau mencintai Yuda " serunya lagi.
" ya, aku mencintai Yuda " teriakku dengan nada yang lumayan besar hingga bisa membuat tamu tamu memperhatikan kami. aku merasa begitu tertekan. disatu sisi aku ingin jujur akan perasaanku selama ini. disisi lainnya aku tak ingin sikap Yuda akan berubah setelah mengetahui perasaanku yang sesungguhnya.
" aku mencintaimu Yuda " ulangku lagi. Yuda terdiam tanpa ekspresi. Dimas hanya tersenyum simpul.
" aku meencintaimu sejak kita awal bertemu. aku sangat mengagumi mu " tambahku lagi.
" tidak. Aku tak bisa mhey " ujar Yuda lirih.
" aku tak menginginkan kau membalas perasaanku, kau tak perlu membalas perasaanku. seperti yang kau lakukan pada Dwi, ingin melihat dwi bahagia karena kau mencintainya. begitu pun denganku. aku tak berniat memiliki mu kini. aku hanya ingin meliat mu bahagia entah itu bersama siapa. aku hanya ingin bisa meliat senyummu yang terus terukir. " Jelasku dengan nada parau.
" kau puas dimas? " tanyaku pada Dimas dengan nada sedikit menantang. Dimas hanya terdiam kemudian meninggalkanku dan Yuda.
" aku harap kau bisa melupakan hari ini. dan tetaplah bersikap sebagai sahabatku. jangan berubah karena apa yang aku ungkapkan hari ini " ucapku kemudian meninggalkan Yuda sendiri.
aku berjalan dengan cepat. aku ingin tidur saat ini juga. aku ingin tidur untuk melupakan sejenak masalah yang kualami hari ini. dengan langkah gontai aku meninggalkan restoran itu. tiba-tiba hp ku berbunyi. Dimas menghubungiku, dengan cepat aku mengangkatnya.
" kau puas? terimakasih. karena kau, aku bisa menunjukan kebodohan dan kerapuhanku didepan orang yang aku cintai " sindirku tajam dari balik telefon.
" aku tak ingin meliatmu bersedih. aku melakukan ini karena aku mencintaimu. aku tak bisa meliatmu terus bersedih. kuharap Yuda bisa sedikit sadar dan bisa menerimamu sebagai kekasihnya. walaupun nanti itu akan sangat menyakitkan hatiku " ujar Dimas.
" kau sama sekali tak membantuku. kau hanya semakin menyulitkanku " bentakku.
" aku hanya ingin meliat orang yang aku cintai bahagia. mungkin sekarang kau berkata itu tak membantu. tapi kuharap ini adalah pembuka kebahagiaanmu. aku bahagia saat kau bahagia. dan tangismu adalah bagian kesedihanku " Ucap Dimas.
" aku mencintaimu! " seru Dimas Lantang.
aku mematikan telefonku, kucabut batterai nya kemudian kembali menyimpannya.
baik, yang kubutuhkan saat ini adalah tidur. dengan tidur aku bisa melupakan dan menenangkan pikiranku yang sangat kacau balau.
*Bersambung*
No comments:
Post a Comment